hmmm, mencabut nyawa memang tidak diperbolehkan sih…..
Alasan spesifik? it’s a secret… tapi gw pengen mulai dari awal lagi….dari titik nol. entah kenapa.
(bagi yg blum tau apa yang sebenarnya penulis bicarakan, silakan menerka sendiri……)

hmmm, mencabut nyawa memang tidak diperbolehkan sih…..
Alasan spesifik? it’s a secret… tapi gw pengen mulai dari awal lagi….dari titik nol. entah kenapa.
(bagi yg blum tau apa yang sebenarnya penulis bicarakan, silakan menerka sendiri……)
“ Bila, ketetapan tuhan, sudah ditetapkan tetaplah sudah…
tak ada yang bisa merubah, dan takkan bisa berubah… “
Sepenggal lirik dari lagu Dewa ; “Hadapi Dengan Senyuman” mengalun lembut di speaker computer kamarku. Meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan sepenggal lirik di atas, tetapi mirip-mirip lah dengan keadaan yang sekarang lagi heboh-hebohnya, didengungkan pakar-pakar, menjadi sumber berita bagi rakyat, sekaligus sumber uang bagi media massa. Dimana-mana, terjadi demo, penolakan, berita, obrolan gossip para ibu di arisan, bahkan sampai dalam pengajian taklim juga dibahas.
Memang kalau dikaji dan diteliti, apalagi dicari faktanya (sepertinya) tidak pernah akan selesai, sebab memang masalah yang lagi hangat-hangatnya akan selalu dikaitkan dengan peristiwa / berita lain, dengan tujuan yang berbeda-beda. Dari ingin memberitakan kebenaran sampai mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Saya beli TEMPO edisi bulan ini setelah pulang sekolah, karena saya langsung tertarik dengan foto bush yang dikombinasikan dengan untaian bunga di lehernya dan bawang putih di bawah dagunya, dengan Judul utama : SAFARI YANG BIKIN REPOT.
Republika dan kompas pun, memberitakan pula tentang kejadian “Mestalak” alias “semesta menolak” ini dengan cara yang berbeda. Jika republika yang kontra kedatangan bush memasang berita itu sebagai headline, kompas yang – menurut saya netral, secara otomatis pula memasang hal itu sebagai salah satu dari berita utama.
Yang jelas, biaya untuk pawai, demo, penolakan bush ini memang memakan biaya yang- meski tidak sebesar kerugian akibat kedatangan bush –memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Contohnya pada hari minggu malam, saya didatangi oleh guru SD saya, yang meminta partisipasi (sodakoh) untuk pawai, yang bertujuan menolak dan memprotes kedatangan bush ke Indonesia, yang rincian pembiayaannya mencapai 1,5 juta rupiah, padahal itu pawai berskala “kecil” alias tidak terlalu banyak orang yang ikut dalam pawai itu.
Jika dihitung-hitung pawai, demo, merangsek ke jalanan, sebenarnya itu untuk apa? Apakah untuk menunjukkan “eksistensi”, menunjukkan kepedulian, ikut berpartisipasi atau hanya “ikut-ikutan saja?” Toh, saya dan anda-anda sekalian juga sering membaca artikel yang belakang2 nya ada tulisan begini :
Atau kalau mau lebih ekstrim bisa begini :
Bagaimanapun, dengan cara apapun, Hal itu tidak bisa dipungkari ataupun diabaikan. Orang orang bisa saja menjadi salah satu bagian dari penentang atau pendukung, ikut dalam pawai atau demo, yang Pro atau yang kontra. Atau kita bisa menyebutkan orang-orang yang memakan pe’empek sambil menonton televise, sambil santai duduk di sofa yang empuk, menyaksikan hal ini di luar kaca.
Ataupun misalnya media massa, saya sebutkan sekali lagi, mengeruk keuntungan ataupun menyiarkan kebenaran, semuanya mengarah ke satu klimaks yang memang sudah ditetapkan dari sebulan lalu : Bush tetap saja berkunjung ke Indonesia, tak terganggu oleh lenguhan dan jeritan kita, tak terganggu dengan banyaknya orang yang mati sia-sia, tak terganggu oleh tokoh-tokoh besar yang menyuarakan pendapatnya di media massa, toh bush tetap saja bersafari ke Indonesia.
Mungkin ada benar nya juga lirik lagu Dewa diatas (walaupun tak sepenuhnya benar), bahwa kejadian ini memang tidak bisa dirubah hanya dengan sekelompok aspirasi kecil-kecilan maupun media massa yang terus saja mengkritik. Entah dengan cara apa lagi kita bisa mencegah kedatangan bush di Indonesia. Tokh pada akhirnya hasilnya sama. bush tetap saja bersafari ke Indonesia. Dan tiba-tiba saya teringat perinsip dasar negara kita ini ; yang sering dilupakan dan dipandang sebelah mata :
Pada akhirnya, “tesis” alias opini saya memang bukan opini para pakar, bukanlah opini para pembesar, “hanya” opini dari seorang anak (kecil?), mengemukakan pendapatnya di blognya yang memang terbilang “kecil” ini, yang dibaca hanya sekelumit oleh sebagian orang saja.
Wassalamualaikum.
~ Kelapa Dua, 20 November, 17 : 22 PM, sambil menunggu adzan maghrib.
——————
Saya adalah seorang Ibu. Memiliki anak anak yang cerdas dan amat suka “membaca” dan membaca, serta cenderung tertarik pada dunia dialog agama, bukanlah hal yang tidak menyenangkan. Apalagi saya sendiri adalah seorang alumnus sekolah katolik yang pernah-anyhow-tertarik dengan dunia lain di luar “jendela” Islam yang menjadi keyakinan saya sejak kedua orang tua saya menikah dan atas kehendakNYA. Bertemulah dua sel calon anak manusia yang kemudian menjadi saya, Pada hari di alam ruh itulah, lalu saya “janjian” dengan Allah SWT, bahwa saya ini hambaNYA dan DIA adalah ROBB tuhan pencipta dan pemelihara.
Maka ketika saya bersekolah berjenjang dan kemudian kuliah, saya mendapat kenyataan, bahwa ada sebagian dari teman teman di kampus yang menganut faham “perjuangan kelas bawah” dan sering menyebutkan Stalin, Lennin, Marxism, Feminisme dan banyak membaca buku buku yang pada hari itu dilarang oleh pemerintah, yang menyisakan sebutir rasa ingin tahu dalam diri saya.
Saya amat menghargai kiprah mereka dalam “pemberontakan melawan kemapanan”atau perjuangan kelas yang mereka usung, tetapi ketika kemudian disana juga menyelip dunia kebebasan tanpa batas, termasuk pergaulan antar makluk lelaki dan perempuan, hati kecil saya mulai bicara. Apalagi ketika semakin lama saya amati, bertanya sana sini, sebagai seorang “pencari” saya berusaha seobjektif mungkin dan zero mind, tetap saja saya menemukan “SEMANGAT KEMARAHAN dan DENDAM” yang membalut sikap sikap atas nama “perjuangan kelas bawah” tersebut.
Nah, Ternyata saya juga menemukan semangat memperjuangkan orang lain , mirip dengan yang dilakukan oleh teman-teman “kiri” yang lebih murni dan tulus , tetapi dilakukan oleh kelompok kelompok berbasis islam. Saya sendiri belum tertarik pada hari itu untuk terlibat karena sejak SMA saya sendiri sudah bekerja profesional di dunia kesenian yang menyebabkan waktu sisa saya tidak begitu banyak untuk masuk dalam suatu organisasi kampus. Barulah selepas kuliah, saya mendapat anugerah baru pecerahan yang menyibakkan rahasia demi rahasia banyak keingintahuan saya sekait dengan pilihan manusia untuk beragama (kaffah atau parsial) atau “tidak beragama” (Baca: tidak mau bertuhan) atau aliran aliran sempalan yang beraneka ragam diantara kedua kutub tersebut.
Waktu berjalan, banyaklah manusia tinggi derajat dunia atau tinggi derajat akhirat (tidak selalu berarti ulama atau kyai atau tokoh agama!) dan bertemu juga dengan orang orang hebat yang terpinggirkan, juga para marjinal berkerah putih di banyak lini kehidupan, dan banyaklah saya dapat ilmu dari mereka semua itu. Menkristallah keyakinan saya secara perlahan tapi pasti bahwa kebenaran yang dilansir oleh OTAK manusia itu adalah sangat terbatas. Dan manusia ingin melampaui TUHAN nya dan bahkan menafikanNYA, itu sudah terlacak juga dalam kitab suci. Dan Tuhan tidak pernah rugi atau dirugikan atas keingkaran mereka, dan kesalehan manusia pun tidak menambahkan secuil pun atas keagunganNYA.
Mulailah era saya mencari kebenaran bukan dengan otak. Bukan dengan kepala saja, tetapi menggunakan nurani yang fitrah. Dengan mudah akhirnya terbantah semua rencana busuk yang dilansir oleh orang orang yang meniada niadakan kekuatan TUHAN dengan sabda-Nya , Al makarun makarallah, sehebat hebat makar manusia, lebih dahsyat mengungguli adalah Makar Allah. Komunisme adalah salah satu cara manusia melakukan Makar kepada Tuhan. Mari kita ambil jangan dari pattern agama.
Kita ambil saja dari pattern akal manusia. Ketika seorang manusia mengatakan ; Saya menolak adanya Tuhan. Tuhan itu tidak ada. Maka coba renungkan dalam-dalam implisitas yang ada di balik pernyataan ini. Bukankah yang ditolak Ada-nya itu pada Hakikatnya mereka akui Ada? Jika tidak ada, mengapa mereka sedemikian menolak-Nya untuk ada? Sesuatu yang ditolak, TIDAK BERMAKNA SESUATU ITU TIDAK ADA. dan bahkan sebaliknya, Sesuatu yang ditolak ada itu memang TELAH EKSIS, telah ADA, lebih dahulu dari yang menolaknya, bukan?
ALLAH, Tuhan semesta alam yang merupakan Zat Tertinggi yang mengatur seluruh alam semesta, oleh sebagian mereka yang menidakkannya dianggap sebagai gejala/hukum alam saja yang terjadi dengan sendirinya tanpa ada “Tangan” lain yang mengatur. Jika memang demikian yang diyakini, maka, secara hukum alam berjenjang, sudah pastilah “tampuk” yang tertinggi dari kekuasaan atas alam ini dipegang oleh makhluk terpandai. Itu adalah manusia. Maka, kalau memang hukum alam itu dapat dipegang oleh manusia, cobalah untuk merubah terbit matahari dari barat ke timur, bukan dari Timur ke barat seperti yang kita miliki setiap hari.
Jangan “akal akalan” seperti mengajari anak membedakan tangan kanan dan kiri dari arah wajahnya dan dari arah punggungnya. Jangan. Kita tidak sedang akal akalan. Kita sedang menghargai kemampuan akal yang dipuja-puja oleh kaum materialis. Ayo, ajaklah otak yang dipuja itu untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya menggiring matahari atau menghentikan sejenak saja denyut jantung barang sehari atau dua hari untuk diteliti ulang, lalu kembalikan ke tubuh, adakah otak yang hebat dapat lakukan?
Atau, aturlah arah bintang jatuh dan putarlah berbalik arah rotasi planet , coba tembuslah dinding dinding langit dan aturlah letak dan posisi benda benda yang bertaburan itu. Jika tidak mampu, cobalah juga untuk yang dekat dengan badan kita , kalau memang tidak ada yang mengatur segalanya, dan hanya merupakan kebetulan dari hukum alam yang terjadi begitu saja . Maka cobalah untuk mengatur kedip mata sendiri , mampukah?
Tapi, sebetulnya ada yang lebih esensial dari jawaban yang bermain akal-akalan begitu.
Begini, sebagai orang yang mau melihat sejarah, tahulah kita bahwa Kebesaran faham komunis itu sesungguhnya hanya rekayasa sejarah saja. Bagaimana tidak? Contoh konkrit, Marx. Marx sesungguhnya adalah seorang yang sangat bertuhan bahkan sampai akhir hayatnya. Dan ia sangat sangat melibatkan Tuhan dalam urusan perjuangan kelas yang ia tarik gerbongnya , dengan susah payah sampai ia sakit sakitan. Jika Marx adalah pejuang kelas di urusan ekonomi, maka demikian pula Lenin yang membahasakan perjuangannya di level kekuasaan. Ia bukanlah seorang yang tidak bertuhan. Dan kenyataan, orang yang dituhankan itu adalah seorang pesakitan berat. Demikian juga Stalin yang membahasakan kekuasaan militer yang menjadi haluannya. Mereka semua direkayasa sejarah. Kebenaran yang sesungguhnya: Perjuangan mereka sangat tidak dibutuhkan andai mereka sudah mengenal Islam karena dalam Islam, perjuangan mereka itu telah selesai diatur dalam Al-Quran yang lengkap dan mulia penyelesaiannya. Sayangnya pada hari itu , mereka berada dalam lingkaran Kristen dan atau Katholik Ortodox yang memang tidak mampu menjawab keinginan kuat para pelahir “isme” yang tidak puas dengan kondisi masyarakat yang tidak berkeadilan sosial politik dan ekonomi “Sama Rasa” yang mereka lantangkan dan kemudian diaktualisasikan oleh para perekayasa sejarah sebagai Komunis. Mudahnya lagi, bagi para pencahari, jangan silau seolah “isme” komunis itu besar. Tidak! Dan bahkan Tidak!. Komunis dengan Marx, Lennin dan Stalin yang direkayasa itu terlalu kecil untuk disandingkan dengan agama Allah Azza Wa Jalla atau apalagi dengan Allah itu sendiri. Jauh hari Al Quran telah menyebut dan mengisahkan “komunis” masa lalu bernama Firaun yang menuhankan dirinya, menafikkan Tuhan yang HAQ. Atau juga “komunis komunis kecil” semacam kana’an yang menolak ajaran yang dibawa ayahandanya, Nabi Nuh AS. Dan banyak lagi para penolak Tuhan yang sudah diberitakan dalam Al Quran dengan amat jelas, bagaimana kedudukan mereka di mata Allah.
Bagi para pembela agama ALLAH, sebaris kalimat ini sepatutnya menjadi pegangan pula; Allah SWT , adalah Ia yang menguasai seluruh alam semesta dalam genggaman-Nya, tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya , kekafiran dan pengingkaran manusia sedahsyat apapun , dan begitu juga tidak akan menambahkan pada kemulian-Nya yang tak tertandingkan , ketaatan dan kebaikan manusia sehebat apapun juga. Ia tidak membutuhkan apa-apa, Kitalah manusia yang membutuhkan-Nya.
Begitulah….
Semoga sedikit yang kusampaikan di ranah jiwa kalian, bertunas menjadi tauhid yang tak kan goyah hatta oleh kedatangan DAJJAL sekali pun. Doaku sebagai ibu, tak akan berhenti sampai hembus akhir nafasku yang menginginkan keselamatanmu dalam Iman Islam yang semoga dapat menolong hamba hamba lain dalam kegelapan memilih cahaya benderang Islam yang dirahmati. Allahu alam. Aku yakin dalam doaku mohon Allah membimbing hatimu, wahai para pejuang ummat masa datang! Berjuanglah dengan jiwa dan hartamu untuk Allah, pasti syurga dan Allah menantimu.
Love, Ibu. (november 2006)
——————
catatan : Tulisan ini masih belum berakhir.